Megi Tristisan

Bahagia Itu Sederhana

Selamat Idul Fitri 1433 H

Tidak ada komentar
Image From Google


Tak terasa bulan ramadhan yang penuh berkah ini harus pergi meninggalkan kita bagitu cepat.Selama sebulan ini banyak hal yang mungkin bisa menjadi pelajaran dari bulan yang penuh hikmah ini, terutama tentang makna sebuah kesabaran. Sabar menahan lapar dan haus, sabar menahan emosi, sabar menunggu waktu berbuka puasa itu semua pasti butuh sebuahkesabaran yang ekstra. Dan puncak dari itu semua adalah lebaran idul fitri 1433 H setelah beberapa tahun mengikuti lebaran makna yang saya simpulkan dari tiap lebaran adalah bukan tantang baju baru, bukan tentang makanan enak di meja tapi tentang sebuah silaturahmi yang terputus. Selama setahun lebih kita sibuk dengan duniawi mengejar cita - cita maka saat lebaran adalah saat yang tepat untuk berlisaturahmi dengan saudara yang ada di kampung atau yang jauh pasti akan pulang kampung halaman. Dan dari silaturahmi itu akan timbul rasa untuk saling memaafkan karena mungkin dulu ada perbuatan, perkataan dan kelakuan yang disengaja atau tidak disengaja pernah menyakiti teman, saudara atau tetangga. Dan mungkin hal itu yang menjadi sebuah perekat seseorang untuk selalu pulang kampung ketika lebaran. Dari banyak kata yang terucap maka dari itu saya Megi Tristisan ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin bila selama ini ada perbuatan, kelakuan, perkataan dan tulisan yang menyinggung teman, saudara, dan semua orang saya minta maaf. Dan akhir dari tulisan ini Selamat Idul Fitri 1433 H.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Suka Duka Menjadi Guru Les

Tidak ada komentar
Images From Google

Awal berhubungan langsung dengan dunia pendidikan sebagai pengajar, terjadi ketika tiga bulan pada tahun 2011. Saya ditawari untuk mengajar Les Private komputer oleh tetangga yang pada waktu itu baru membeli komputer, dia menginginkan anaknya yang masih berumur 9 tahun itu bisa komputer dan mungkin tidak ketinggalan untuk bisa menguasai komputer. Karena pada waktu itu saya tidak ada kegiatan selain kuliah, kuliahpun tidak terlalu padat maka saya putuskan untuk menerima tawaran yang diberikan.Alasan saya langsung menerima tawaran yang diberikan pada waktu itu adalah soal uang, karena dengan mengajar Les maka saya bisa mendapatkan tambahan uang jajan. Tidak ada pikiran bagaimana proses tiga bulan kedepan karena saya pikir saat itu saya menguasain materi yang akan diberikan untuk anak didik saya. Hari pertama saya mengajar akhirnya tiba dan alhamdulilah bisa dibilang hari pertama lancar tanpa kendala anak didik yang saya ajar mengikuti dan mengerti semua yang saya jelaskan. Padahal bisa dibilang awal mengajar saya gugup walaupun yang diajar oleh saya ini anak kecil tapi kedua orang tua si anak ternyata memperhatikan dengan jelas setiap gerak - gerik saya dari kursi yang sepertinya sudah mereka siapkan untuk memperhatikan materi apa saja yang saya berikan untuk anak mereka. Hari berikutnya setelah hari pertama menjadi berat bagi saya, si anak mulai nakal banyak permintaan yang di ajukan seperti main game dulu sebelum belajar dan yang lainnya. Sebenarnya ini salah saya juga yang mengenalkan game kepada dia karena harapa dia termotivasi untuk lebih rajin tapi apa daya malah senjata makan tuan. Bisa dibilang tiga bulan itu saya harus mengeluarkan energi ekstra untuk menjelaskan agar dapat diterima oleh sang anak. Kadang saat itu terjadi suka membayangkan guru - guru TK dan SD yang mengajar anak - anak. Mungkin bagaimana capeknya yang satu saja saya suka kewalahan apalagi yang tiga puluh sampai empat puluh anak dalam satu kelas. Hal yang paling saya ingat dari tiga bulan mengajar anak kecil itu adalah jangan telat, iya karena ketika saya telat lima menit saja maka si anak sudah kabur untuk bermain atau tertidur pulas. Kadang suka kesel juga sudah jauh - jauh datang dari rumah saya eh pas datang ke rumah anaknya sudah tidur. Sebenarnya saya tidak ingin telat tapi jarak rumah anak didik dengan rumah saya yang agak jauh memungkinkan say untuk terlambat apali saya datang kesana hanya dengan berjalan kaki. Tapi kadang itu semua terbayar ketika pada akhir bulan kedua orang tua anak itu memberikan uang lelah selama satu bulan, lumayan bisa mentraktir teman - teman dan keluarga walaupun sekedar hanya untuk membeli baso. Pengalaman tiga bulan itu memang sebentar tapi jujur banyak hal yang membuka mata saya tentang beratnya menjadi seorang pengajar, mendidik anak orang itu gampang - gampang susah. Kesimpulan yang saya dapat dan menjadi bahan renungan untuk diri saya khusunya, bagaimana jika suatu saat saya menjadi seorang pendidik yang bertanggung jawab bukan hanya pada anak - anak dan orang tua anak - anak itu tapi pada negara. Tiga bulan itu juga mempangaruhi saya untuk selalu fokus dan menghormati serta memperhatikan apa yang dosen berikan di depan kelas karena kadang saya merasakan bagaimana ketika sedang menjelaskan tidak diperhatikan itu bagaimana rasanya.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Button dan Javascript

Tidak ada komentar

Setelah pada latihan javascript sebelumnya saya membuat Hello World, maka pada latihan yang selanjutnya. Buku yang saya baca akan memberikan contoh program yang interaktif yaitu dengan memakai button dari elemen form HTML. Dimana ketika pengguna mengklik button itu maka akan muncul dialog peringatan. Untuk lebih lanjut coba temen - temen copas coding dibawah ini :

<html>
 <head>
  <title>Program Javascript Kedua | Pake Button</title>
   <script language="JavaScript">
     function evTekan()
      {
       alert("Terima Kasih Sudah Menekan Tombol");
      } 
   </script>
 </head>
  <body>
   <form> 
    <input type ="button" value="Tekan Tombol"
     onClick="evTekan()">
   </form>
  </body>
</html>




Sedikit memberikan penjelasan dari kode program yang saya tulis diatas yang kali ini kodejavascript diletakan di bagian <head> HTML. Alasan penulisan kode javascript di <head> adalah agar program yang kita buat itu dimuat langsung ke memori jadi ketika pengguna menekan tombol klik itu perintah langsung dieksekusi tidak menunggu lama.

Referensi Buku : Panduan Pemrograman JavaScript (Antony Pranata), Andi Yogyakarta

Tidak ada komentar :

Posting Komentar