Bahagia Itu Sederhana

Rina Agustina

Tidak ada komentar
Sebuah Prolog
Sore itu ketika matahari mulai menutup dirinya, saya hanya bisa duduk tenang di tepi jalan menunggu bis jurusan Kuningan – Cirebon menghampiriku untuk mengantarkan ku kembali pulang ke rumah. Tiba – tiba saja terbersit kata – kata yang dilontarkan oleh rina tadi siang kepada ku.
    “ saya ga mau kenal kamu lagi Gi…. “
teriak Rina sambil memalingkan wajah manisnya dari muka saya. Sambil melangkah pergi meninggalkan tempat parkir kampus dan saya pun hanya bisa terdiam mendengar kata – kata yang dilontarkan oleh rina.
    “ Na…. Na …. Na “
Panggilku mencoba menjelaskan semua yang sudah terjadi tapi sudah tak bisa rina sudah jauh meninggalkanku,  aku hanya termangu di sudut tempat parkir.
    Tiba – tiba suara keras klakson dari bis jurusan Kuningan – Cirebon menyadarkanku dari sedikit lamunan pikiranku tentang Rina.
    “ Kuningan a ?? “
    Tanya kondektur kepadaku
    “ Iya “
    Anggukku
    Tanpa pikiran tentang rina lagi saya mencoba naik bis untuk pulang kerumah karena jam di handphone saya menunjukan jam 17.45, tapi tetap saja pertengkaran tadi siang itu tak bisa aku hilangkan dari otak ini. Rina kelihatannya begitu marah ketika bola yang kutendang mengenai badannya. Pada hal Rina itu satu dari ratusan cewek yang saya suka di kampus.
    “ sial banget sich gue “
    Gumamku dalam hati,
    Bagaimana tidak ?? cewek yang saya suka tiba – tiba marah kepada saya hanya karena hal yang sepele.
    “ aku harus minta maaf sama Rina “
    Tekad ku dalam hati, besok hari sabtu aku akan coba untuk minta maaf sama Rina……..




Dibalik Prolog
Rina itu seorang perempuan yang saya kenal saat kita berdua menjalani pendidikan profesi satu tahun di LPK CIC Cirebon. Prolog diatas itu adalah salah satu kejadian nyata yang saya tuangkan kedalam cerpen. Jadi dulu saya itu pernah kuliah profesi satu tahun jurusan Manajeman Informatika, Disini saya mengenal Rina, Seno, dan Irnayadi hingga akhirnya kita menjadi sahabat. Setiap hari walaupun tidak sering perkerjaan kita berempat itu selalu saja jalan - jalan. Saya masih ingat pertama kita berempat jalan - jalan itu ke salah satu objek wisata Paniis di Mandirancan, kami berempat pergi setelah pulang kuliah. Karena seringnya kita jalan berempat tidak tahu kenapa waktu itu ada rasa suka yang dalam saya untuk Rina, padahal waktu itu saya tahu kalo Rina itu sudah punya cowok. Masih pada waktu itu saya hanya bisa menyimpan rasa suka saya sama Rina sampai kita akhirnya berpisah. Ya berpisah oleh jarak saya memang sempat bersilaturahmi dengan dia sama Seno dan Irnayadi tapi ya seperti itu dia masih bersama cowok yang dulu itu. Dia juga sempat punya Akun Facebook tapi saya hanya bertahan beberapa bulan saja setelah itu dia menghilang entah kemana tapi ya sudahlah toh saat ini rasa suka itu sudah hilang dari hati saya. Semoga saja dia (Rina) bahagia dan baik - baik disana dimanapun tempat sekarang dia berada, karena saat - saat kita bersama itu yang terbaik saat menjalani hari menjelang senja.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar